Penulis: DR. Elvira Syamsir. - Staf Pengajar Dept. Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB - Produk pangan tradisional Payakumbuh sangat beragam dengan citarasa yang tidak kalah jika dibandingkan dengan produk pangan tradisional dari daerah lain. Sehingga, sangat tepat jika makanan ini juga ditonjolkan sebagai kekuatan pariwisata Payakumbuh. ===
Untuk menjadikan produk pangan tradisional sebagai kekuatan daerah, kita tidak bisa hanya mengembangkan produk yang apa adanya. Perlu kemauan dan usaha untuk ‘menampilkan’ produk sedemikian rupa agar menarik bagi calon pembeli
Berikut beberapa trik yang dapat dilakukan untuk menjadikan makanan tradisional sebagai kekuatan pariwisata.
- Mengembangkan sistem untuk menjamin produksi produk dengan mutu yang konsisten. Dengan sistem yang jelas, mutu tidak lagi tergantung pada satu orang. Pekerja boleh silih berganti, tapi mutu produk tetap sama.
Bagaimana caranya? Kita harus membuat standar untuk bahan baku yang digunakan, mengembangkan formula standar, membuat prosedur baku untuk proses preparasi, pengolahan, penyimpanan dan penyajiannya.
- Menerapkan Cara Pengolahan Pangan yang Baik (CPPB, Good Manufacturing Practice) untuk menjamin keamanan produk pangan yang dihasilkan.
Tentunya kita tidak ingin produk kita menyebabkan keracunan pangan pada konsumen yang mengkonsumsinya, karena menyebabkan publikasi buruk bagi usaha kita.
CPPB pada intinya adalah memastikan semua aspek dari produksi pangan yang dilakukan berlangsung dengan kondisi higiene dan sanitasi yang terkendali. Dengan CPPB yang baik, tidak akan ada lagi yang mengatakan bahwa produk tradisional identik dengan kondisi proses yang ‘kumuh’.
- Perbaikan produk. Adakalanya kita perlu melakukan terobosan-terobosan untuk mengangkat ‘gengsi’ produk di mata konsumen.
Diperlukan toleransi untuk bisa memvariasikan karakter produk agar dapat memenuhi keinginan konsumen. Aspek penyajian/penampilan, pembentukan image dan promosi produk menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Perbaikan penyajian/penampilan bisa dilakukan antara lain lewat perbaikan bentuk, perbaikan kemasan atau perbaikan formula. Sebagai contoh, gelamai mungkin akan lebih menarik jika dikemas dalam ukuran permen, kemasan dipilih yang bisa mempertahankan mutu produk tetap baik, “kerupuk lento” direformulasi sehingga menjadi tidak terlalu keras, dan lain sebagainya.
- Memperhatikan aspek pemasaran. Aspek pemasaran merupakan faktor yang penting diperhatikan agar produk dapat bersaing di pasar. Selain dibantu dengan perbaikan produk, image produk juga perlu dibuat dan disosialisasikan terutama pada pendatang.
Jika perlu, dibuatkan brosur untuk promosinya. Contohnya, “kopi talua” bisa ditonjolkan sebagai minuman berenergi. Perhatikan target pemasarannya. Jika dibuat untuk wisatawan, maka perlu disediakan ukuran yang bervariasi dan dengan kemasan yang menarik. Contohnya, “dadiah” dikemas dalam tabung bambu yang diberi ukiran khas Minang sehingga lebih “eye catching” alias lamak dicaliak.
Empat trik yang diberikan diatas semoga dapat mengantarkan produk pangan tradisional Payakumbuh menjadi penguat sektor pariwisata.
Mudah-mudahan kontribusi sederhana ini ada manfaatnya bagi kita-kita semua, utamanya bila ada kanti-kanti yang memang punya usaha di bidang kuliner khas di Payakumbuh dan 50 Kota.
Momen Reuni Perak’88 ini, tentu sangat baik kita jadikan sebagai ajang berbagi, berbagi apa saja untuk kemashlahatan bersama.
Bravo, IKESMA. Salam dari Bogor.
—
Info Alumni:
Elvira Syamsir Alumni’88 SMA N 1 – Biologi 3 Doktor Ilmu Pangan. Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor; Peneliti SEAFAST Center IPB; Wakil Kepala Laboratorium Departemen ITP IPB; Kepala Kerjasama dan Pelatihan Departemen ITP IPB: Redaksi/Kontributor Ahli Majalah Kulinologi Indonesia. (Red).
Komentar