Kolom Alumni: Potensi Pengembangan Ekonomi Kreatif Di Payakumbuh

Penulis: Titik Anas,S.E., M.A., Ph.D - 

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan ringan lewat BBM dengan sahabat lama yang sekarang adalah kurator seni pertunjukan Minang. Kami mengobrol kesana kemari tentang rendahnya perhatian masyarakan Minang akan seni. Sementara itu di dunia ini, banyak negara yang sangat memperhatikan perkembangan seni budayanya. Bahkan tak jarang seni dan budaya menjadi sumber ekonomi negara-negara tersebut, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Di Indonesia, perhatian terhadap pengembangan seni budaya sebagai usaha ekonomi mulai meningkat sejakpemerintah mencanangkan pembangunan ekonomi kreatif pada tahun 2007. Namun, pada masa itu hanya ada dua daerah yang langsung menyambar kesempatan tersebut dalam mempromosikan daerahnya dalam kerangka ekonomi kreatif. Dua daerah yang mengambil kesempatan tersebut adalah Kota Solo dan Kota Bandung.

Apakah ekonomi kreatif itu? Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang berdasarkan pada pemanfaatan sumber daya budaya dan keilmuan yang ada. Di Indonesia yang dimaksud dengan ekonomi kreatif meliputi 14 bidang usaha yaitu; arsitektur, desain, fesyen, film, video dan fotografi, kerajinan tangan, musik, pasar senin dan antik, percetakan dan penerbitan, advertising, games interaktif, penelitian dan pengembangan, seni pertunjukan, IT dan perangkat lunak, seni dan kuliner.

Semasa Jokowi masih menjadi Walikota Solo, beliau memulai inisiatif pengembangan kota Solo sebagai pusat kuliner dan seni budaya. Berbeda dengan kota Solo, gerakan memajukan ekonomi kreatif diprakarsai oleh komunitas kreatif Bandung, sehingga kita mengenal Bandung Creative City Forum, wadah bertemunya para penggiat usaha-usah kreatif Bandung dan pemerintahan untuk pengembangan usaha-usaha kreatif di Bandung. Di Bandung memang berkembang banyak sekali usaha kreatif seperti Distro, kuliner, musik dan pertunjukan seni, semua ada!

Dalam perkembangan ekonomi suatu bangsa, memang terjadi pergeseran sumber ekonomi dari ekonomi berbasis pertanian, menuju ke arah ekonomi berbasis industri lalu ekonomi berbasis informasi dan kemudian ekonomi berbasis kreatifitas.

Dalam skala ekonomi lokal daerah, pengembangan ekonomi daerah sangat ditentukan oleh potensi yang dimilikinya. Sejauh ini perekonomian Payakumbuh memang bertumpu pada perdagangan dan jasa, sekitar 40 persen daripendapatan daerah regional bruto (PDRB) adalah dari sektor perdagangan dan jasa. Melihat posisinya yang strategis diantara PekanBaru, Batusangkar, Kabupaten 50 Kota dan Bukitinggi, tidak heran kedua sektor ini cukup dominan.

Apakah dengan demikian, Payakumbuh punya pontensi untuk pengembangan sektor-sektorkreatif? Ada beberapa sektor kreatif seperti fesyen, kerajinan dan seni pertunjukan yang terlihat ada potensi untuk dikembangkan. Mengapa? Untuk menjawab pertanyaan ini ada 3 hal yang dapat dijadikan patokan.

  • Pertama, ketersediaan sumber daya manusia yang bertalenta. Sumatera Barat memiliki ISI Padang Panjang yang menggodok sumber daya tersebut. Payakumbuh, khususnya memiliki cikal bakal industri kerajinan tangan, yang dengan sedikit polesan bisa menjadi industri yang berpotensi menasional dan bahkan mengglobal. Ajang-ajang seperti Payakumbuh Fashion Week dan Payakumbuh World Music adalah indikasi adanya bakat-bakat yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
  • Kedua, prasara dan sarana. Apakah Payakumbuh memiliki prasarana dan sarana untuk mengembangkan seni pertunjukan menjadi event yang regular? Mungkin untuk pertanyaan ini, jawabannya adalah belum ada. Dibutuhkan dukungan pemerintah untuk membantu realisasinya.
  • Ketiga, pasar. Apakah ada yang akan menonton seni pertunjukan tersebut dan membeli kerajinan tangan produksi Payakumbuh? Potensi pasarnya tidak hanya meliputi wilayah Payakumbuh, tetapi juga daerah-daerah lain di sekitarnya termasuk Pekan Baru, Bukit Tinggi dan Batusangkar, bahkan Batam, Singapore dan Malaysia. Dengan semakin majunya teknologi pasar menjadi semakin dekat!

Selain itu, hal yang juga penting adalah faktor toleransi, sederhananya adalah tingkat keterbukaan masyarakat terhadap ide baru. Sejarah menunjukan bahwa Payakumbuh sangat terbuka atas ide-ide baru. Hal-hal terbaru yang happening di kota metropolitan seperti Jakarta biasanya sangat cepat jugaditemui di Payakumbuh. Dari empat komponen utama tersebut mungkin hanya sarana dan prasarana yang menjadi masalah pelik, termasuk prasara dan sarana teknologi informasi. Sudah waktunya pemerintah kota turun tangan.

Bagaimana membungkus semua ini? Kuliner dan pariwisata alam Payakumbuh, tepatnya kawasan-kawasan sekitar Payakumbuh seperti Harau dan Ngalau dapat mendukung pengembagan ekonomi kreatif tersebut karena kombinasi kuliner dan seni pertunjukan merupakan dua kombinasi hiburan akhir pekan yang akan dinikmati keluarga. Bila dikemas dengan apik, tidak heran bila Payakumbuh akan menjadi tempat kunjungan wisata yang reguler dari daerah-daerah sekitarnya. Semoga kreatifitas makin berkembang di Payakumbuh.

—-

Info Alumni:

Titik Anas  Alumni’88 SMA N 1 – Fisika 1 Peneliti di Center of Strategic and International Studies (CSIS), seorang Ekonom Senior yang juga anggota Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi (PEPI) tahun 2007-08 – Pengajar di Uniersitas Padjadjaran Bandung ini meraih PhD dari Arndt-Corden Economics Department di Australian National University – Canberra tahun 2012.(Red)

Komentar