3.4.06

Memberikan Kepercayaan kepada Anak Sejak Dini

[Foto: Emil Abbas]


Kabid. Pendidikan DPP IKESMA:
Tak ingin anak hanya belajar tanpa beroleh kesempatan mengatasi persoalannya sendiri.

Jakarta (IKESMA) - Banyak cara mendidik anak. Untuk mendidik anak bertanggung jawab dan menanamkan kedekatan kepada Sang Pencipta, Emil Abbas MBA, seorang pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan migas, asuransi, dan perbankan, punya cara tersendiri.Presiden Direktur PT EASCO yang memiliki 32 anak perusahaan dengan lebih dari 3.000 karyawan ini menyatakan, hal terpenting yang harus diperhatikan dalam mendidik anak adalah memberikan kepercayaan kepada mereka sejak kecil. Dalam kesibukan yang sangat ekstra ini, Emil masih meluangkan waktu untuk DPP IKESMA, duduk sebagai Ketua Bidang Pendidikan pada masa tugas 2005-2010. ''Kalau mereka sejak kecil sudah diberikan kepercayaan, maka mereka akan memiliki tanggungjawab yang besar. Yang juga tak kalah penting bagaimana kita menghadirkan dalam diri mereka keyakinan bahwa hidup mereka selalu diawasi oleh Yang Maha Kuasa, istilahnya kita berusaha menghadirkan Tuhan dalam diri mereka di mana pun berada,'' ujar suami dari Risma (44 tahun) ini di kediamannya, Apartemen Casablanca belum lama ini.Mengatasi sendiriEmil memiliki cara tersendiri untuk mendidik kelima anaknya; Emilia (22 tahun), M Candramata (19), M Taufan (18), Sri Indah Permata (15), dan M Khalid (8). Ia mencontohkan cara ia memberi kepercayaan. Di usia dini, anak-anaknya diberikan kepercayaan untuk mengendarai mobil. ''Saya punya real estate yang halamannya cukup luas. Saya suruh mereka bawa mobil tanpa diajarkan, biar mereka bisa mengatasi dengan caranya sendiri. Anak saya yang paling besar waktu itu kelas 2 SLTP, ada yang kelas 5 SD malahan,'' ungkapnya. Cara seperti itu, kata dia, maknanya mendidik anak menganalisa, mengenali sesuatu, sehingga instingnya jalan. Contoh lain, Emil punya alat-alat berat. Ia pun memberikan buku petunjuk kepada anaknya. ''Kamu baca buku ini kau jalankan sendiri. Misalnya dozer, eksavator, saya kasih kunci kamu jalankan.'' Dengan caranya itu, Emil bermaksud mengajarkan anak mencari sesuatu dan menjalankan. ''Di balik itu dia tahu ada risiko-risiko. Tapi risiko itu sudah kita perhitungkan. Sejauh-jauhnya lari eksavator itu sudah bisa mencegahnya dan di mana berhentinya,'' jelas dia.Tentu saja Emil tak mau konyol sembarang melepas anak. Sebelum itu, ia mengisi 'instrumen' hidup yang dibutuhkan anak. Mulai dari ilmu pengetahuan, akidah, akhlak, teknologi hingga cara bekerja di lapangan. Ia mengajak anak menghidupkan naluri, insting, perasaan, dan kalbu sehingga tahu dalam segala sesuatu itu adalah Allah yang berperan. ''Itu selalu yang kita hidupkan dengan itu baru kita lepas dia,'' katanya. Meski sudah memberi pembekalan, secara jujur Emil mengaku ada kecemasan kadang-kadang dengan cara yang ia lakukan. ''Tapi ini penting. Selain memberikan kepercayaan kepada anak, juga menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, bagaimana mengatasi persoalan yang dihadapi. Risikonya, tentu kita sudah perhitungkan,'' paparnya.Model mendidik seperti itu, Emil mengharapkan anak-anak menjadi kuat dan matang dalam mengatasi hidup. Ia berpendapat, seseorang yang hanya belajar semata dan tidak pernah diberi kepercayaan dan kesempatan untuk mengatasi persoalannya sendiri, akan terkejut di saat berhadapan dengan dunia nyata.Cara pendidikan anak ini dirumuskan Emil dari perjalanan hidupnya sendiri. ''Saya mungkin dari muda sudah mengembara, berkelana jadi saya belajar dari hidup saya sebisa mungkin saya ambil hikmahnya.''Ada yang melihatEmil sangat sadar punya macam-macam kesibukan. Namun demikian, ia berupaya keras untuk tidak mengabaikan pendidikan anak. ''Jangan sampai kita mengejar bermacam-macam aktivitas di luar, dengan usaha yang besar tapi nanti anak yang menjadi amanat Allah, keluarga ini berceceran,'' katanya.Kendati ada anaknya bersekolah Kanada, Emil merasa bersyukur keluarganya tidak tercerai berai. Setiap bulan ia menjenguknya ke Kanada sambil mengatur jaringan bisnis, selain itu kontak telepon tiga sampai empat kali sebulan. ''Yang bisa mengawasi kita cuma akidah. Ini kita transformasikan kepada anak,'' jelasnya. Caranya, Emil mengenalkan pada anak bahwa dalam hidupnya manusia selalu ada yang melihat, yakni Allah. Dengan begitu, ia mengajarkan anak mengerjakan shalat, puasa, bukan karena orang tua. Untuk bisa menjadikan anak-anak begitu menyadari bahwa Tuhan selalu hadir pada diri mereka meski jauh dari orang, tentu itu tak sekonyong-konyong. Itu harus dimulai sejak kecil. Kini, hal-hal yang tampak kecil, bagi Emil cukup menjadi pelipur hati. Misalnya, ia terkadang mengecek apakah anaknya menunaikan shalat Jumat. Kira-kira sudah pulang Jumatan, ia menelepon ke Kanada, menanyakan tempat shalat Jumat si anak. ''Shalat Jumat di University of Victoria,'' jawab anaknya. Pertanyaan cross check Emil berlanjut pada khotibnya dan lain-lain.''Dia jawab, 'Orang Arab pak' Artinya benar-benar dia pergi shalat Jumatan. Tetapi, dia pergi Jumatan itu dengan sepeda. Sedangkan di sana sudah memasuki musim dingin,'' papar Emil, ''Di satu sisi saya kasihan. karena menjalankan ibadah di tempat orang yang banyak tidak shalat, tempatnya jauh. Tapi di sisi lain dia menjalankan ibadah. Itu suatu obat penawar bagi kita, artinya kita berhasil.'' [News-dick]

Tidak ada komentar: